Use Your Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

About

Uik Pok Pok, Sebuah tulisan dalam dunia kecil untuk dunia besar. Uikpocholic adalah sebutan kalian yang membaca blog saya ini.

Selasa, Agustus 9

Aku mencintaimu, karena engkau melengkapiku

0 komentar

Judul aslinya I love "NOW"

Ini adalah tulisan dari Ratih Maya Sari (yang insya Alloh akan menjadi istri saya)
Sebuah ungkapan dari hatinya, semoga bisa menginspirasi kalian

Duluuuuu aku pernah menjalin hubungan yang sangat berat....namanya wanitaaaaa yang berpikirrr hanya dengan perasaan..

Duluuuuu aku rasa dialah jodohku, pelabuhan terakhirku, tapiiiiii ternyata apa yang menurut kita baik belum tentu menurut orang tua, keluarga, teman juga baik, lebih-lebih Alloh SWT.

Duluuuuu aku pernah memaksakan kehendakku padahal aku tahu itu salahhh. Aku mencoba untuk bertahan tapi sangattttt berattt. Dan yang kudapat hanyalah air mata, hidup yang selalu was was tidak tenang...

Duluuuuu berat memang melupakannya dan sangat sulit untuk berkata pisah, tapiii mau tidak mau, suka atau tidak suka, aku harus lakukan itu demi keutuhan keluargaku. Realita hidup yang memang seharusnya aku tidak memaksakan kehendakku. Bersyukur hubungan sebelumnya dapat berakhir dengan damai karena hubungan kami dimulai dengan baik-baik dan berakhir dengan baik-baik.

Duluuuu sempat aku berfikir aku tidak akan bisa menemukan seseorang sebaik dia dan ternyata.....

Sekarangggg, aku telah menemukan seseorang yang kuanggap dialah belahan jiwaku...pasangan hidupku, menerima kekuranganku dengan ikhlas.

Sekarangggg, juga dialah yang bisa menyayangi aku dengan tulus. Satu hal yang aku sukaaa dia tidak pernah memaaku memanjakanku secara berlebihan... Kalau salah yahh aku dimarahin juga. Biar aku tahu kalau aku memang salah dan harus berubah lebiih baik.

Sekaranggglahhh masa depankuuuu, cita-cita, angan-angan, harapan ingin sekali kami wujudkan berdua, saling beriringan. Dan akhirnya kami merasa saling ketergantungan. Akhirnya aku tegaskan aku gak mau yang duluuu, aku mauu yang sekarangggg!...

Terima kasih atas jalan hidupku sekarang ya rabb.. Semoga ini semua tidak akan pernah menjadi yang duluuu. Aku berharap akan terus menjadi seperti yang sekarang.

Buat calon suamiku dimas arif sumarsono...terima kasih telah mencintaiku dengan cara sederhana...ASK...

Minggu, Juli 3

Renungan Wanita

0 komentar
Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang 'akhwat' (muslimah/wanita) datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “ 'anty' (sebutan untuk perempuan muslimah) sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya

“Mbak kerja di mana?”, entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.

Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan umi ridho”, begitu katanya. Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah..

Semoga pekerjaan, harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.
"
Tulisan ini merupakan murni pengalaman pribadi penulis yaitu Fitri Kurnia Handayani.

Kamis, Mei 26

Mencoba Indomie Pedas Mampus

0 komentar

Ada yang tahu tidak warung Mie Goreng Instan Indomie Pedas di kota Samarinda, yang terletak di jalan Gatot Subroto atau lebih tepatnya begini dari jalan Kusuma Bangsa yang mau menuju ke jalan Agus Salim terus setelah ada lampu merah belok kiri untuk menuju arah Gatot Subroto, letaknya di sebelah kanan sebelum jembatan. Kebetulan kawan, saya lupa nama warungnya.

Di warung tersebut tidak hanya menjual Mie Goreng Instan Indomie, tapi bakso dan es jus pun tersedia. Namun yang lebih bikin tertarik adalah Mie Instan Indomienya itu disajikan dalam rasa yang sangat pedas-mampus. Tingkatannya dimulai dari Pedas, Setengah Mampus, dan akhirnya Mampus. Maksudnya mampus disini yaitu rasa pedasnya bikin anda Mampus-pus-pus dan bibir anda akan jadi dower-wer-wer. Pokoknya gitu deh..

Menulis Lagi

0 komentar
Hmm... Rasanya dah lama banget gak nulis lagi. Kira-kira dah enam bulan lebih. Padahal aku pingin menulis, pingin menulis lagi. Gak perduli dibaca orang atau nggak? yang penting aku ingin menulis lagi. Aku ingin menuangkan semua pikiran yang ada dikepalaku. Aku ingin mengaktualisasi diri kembali. Gak mau begitu saja larut dan terlena dalam dunia kerja dan kesibukkan sehari-hari. Aku ingin terbang bebas seperti burung, walau hanya dengan media tulisan ini. Aku ingin berkenalan dengan orang-orang baru, tanpa batas semangat yang lurut larut.
Daripada bingung-bingung baca kalimat saya yang muter-muter dan gak jelas gitu, ini saya ketik dengan huruf besar (maksudnya sebagai tanda ganti untuk berteriak lantang)....

"AKU INGIN EKSIS LAGI, INGIN MENULIS LAGI"


Selasa, Agustus 3

Luna Maya dan Ariel Peterpan (review)

2 komentar

Mungkin ini sudah cerita basi atau lama yang sudah mungkin pelan-pelan dilupakan, bukan maksud untuk membicarakan aib seseorang tapi hanya membicarakan hikmah dan pelajaran yang didapat.

Saya suka dengan artis Luna Maya dan musisi Ariel Peterpan. Semua orang pasti juga mempunyai pikiran yang sama dan mungkin sampai saat ini kita masih menyukai (atau lebih tepatnya mengidolakan) mereka andai kasus video porno tidak terungkap dan terjadi.

Mimpi

0 komentar
Mimpi

Mimpiku saat ini adalah
Photobucket
Mimpi : jadi penulis, punya karya, diterbitkan, dan jadi pembicara di seminar sastra, akhirnya masuk TV terutama di acara talkshow seperti kick andy, apakabarindonesia, dll (tapi di acara infotainment juga boleh..he..)

Realisasi :
  1. Membuat blog (walaupun sudah pernah banyak membuat namun terbengkalai) lalu ditekunin.
  2. Berteman dengan penggemar buku, penulis, dan penerbit (walau kebanyakan hanya di social networking a.k.a facebook dan twitter)
  3. Rajin mengkhayal, bermimpi (walhasil sering telat bangun), dan tidak lupa berikhtiar.
  4. Pelan - pelan sudah mencoba menulis.
  5. Bersedekah biar enteng rejeki (aaaaamiiii..iin... --diucapkan seperti ketika imam sholat selesai membaca surah al-fatiha--)

Bisa tidak ya?
Tapi harus mencoba, seperti kata pacik ikal (andrea hirata - penulis buku)
"seberapa cepat engkau berlari kawan?!"

Lantas apa mimpimu, uikpocholic??

Rabu, Juli 28

Tak Percaya Tuhan

1 komentar
Tak percaya TUHAN, kawan-uikpocholic, agh, pikiran yang bagaimana pula itu..


Jika tak percaya TUHAN, maka tak usahlah kau percaya adanya SURGA dan NERAKA.
Lalu, tak perlu juga percaya MALAIKAT, BIDADARI-BIDADARI penghuni surga
dan juga, IBLIS serta SETAN-SETAN yang menghuni neraka,
jika begitu, tak usahlah engkau juga percaya bisikkan-bisikkan dalam HATImu, karena tak mungkin juga engkau percaya itu karena Dia, setelah itu buat apa juga kamu percaya yang namanya JIWA atau ROH, karena kau cuma beranggapan bahwa dirimu cuma sekumpulan DAGING dan DARAH yang mempunyai OTAK. Setelah daripada itu, tak mungkin juga engkau takut akan yang namanya MATI.. Karena menurutmu, tidak ada Tuhan, maka kematianmu hanyalah musnah dari muka bumi, TAMAT begitu saja...

Sedangakan kami, yang percaya TUHAN, akan pergi ke Surga dan berbahagia disana, atau bagi yang punya banyak dosa dan belum sempat insyaf maka sudihlah ia pergi ke Neraka bersama Iblis dan Setan-setan..

Ini adalah catatan realigiku.. dan Aku meMohon berkah di setiap langkah ku Ya Tuhan, Alloh, Pencipta Alam Semesta Raya beserta Isi-isinya termasuk Aku, Kamu, Dia, Orang yang tak percaya TUHAN, Malaikat, Bidadari, Jin, Iblis, Setan, Hewan, Udara, Gunung, Laut, dan masih banyak lagi....

Ratings and Recommendations by outbrain