Kain Merah Minkar

Senin, Agustus 17 1 Comment »

Kain Merah Minkar

“Setan!? Gue kagak takut. Sini mana setannya? Biar gue gigit! Huahaha…” seru Minkar saat baru masuk kedalam rumah. Minkar langsung menuju ke arah dapur. Karena dia baru saja mendapat pesan menakutkan dari salah satu temannya. Disibaknya korden jendela dapur, tak ada tanda-tanda aneh. Matanya hanya memandang tiang jemuran yang kosong.

“Dasar kampret. Hari ini gue dikirimin pesan kalau ada setan yang ngintip dibalik jendela dapur! Emang gue bocah!” Minkar lalu menepuk-nepuk dadanya. Tunggu loe ye, gue balas entar!

Minkar lalu mencari-cari cerita seram di google. Dia ingin membalas temannya itu. Tak terasa sudah hampir 4 jam searching dan waktu menunjukkan jam 9 malam, tapi sedari tadi Minkar malah sibuk stalking mantan. “Coba dulu loe gak gue kenalin sama Aisyah, mungkin kita masih... Aaah..” bisik Minkar dalam hati. Minkar benar-benar terbawa suasana hingga air matanya menetes.

“Tok.. tok..tookk..” lamunan Minkar buyar karena mendengar suara ketukkan. Dengan langkah centil Minkar menuju pintu rumah. “Loh kok gak ada orang?” Minkar lalu melihat-lihat diluar untuk memastikan. Suasana benar-benar sunyi. Minkar kembali menutup pintu dan dengan cepat kembali kekamar.

“Halo, Emak dimana?” tanya Minkar dari telepon genggamnya.
“Emak kan masih dinas, lusa baru balik ke Jakarta…” jawab suara dari seberang sana. Minkar lalu menutup teleponnya.
“Gak mungkin juga Emak iseng ngerjain. Jangan-jangan si Monyet” Minkar mulai menerka-nerka.
“Nyet, dimana loe?” Minkar kembali menelepon. Kali ini ke adik semata wayangnya.
“Lagi dirumah Ibram, gue nginap disini. Gak betah gue dirumah, setiap Emak gak ada. Loe benar-benar jadi kakak durhaka yang suka nyiksa gue.”
“Kamprettt, pokoknya pulang! Kakak loe ketakutan disini…”
“Huahahaa…”
“tutt..tuttt..tutttt…” sial, hapenya dimatikan.

Belum usai, ketukkan itu kembali terdengar, “tok.. tokkk…”
Minkar lalu sadar, suara itu bukan berasal dari pintu. Tapi dari dapur. Karena berdiam diri tak ada guna. Minkar memberanikan diri menuju dapur.

“tok… tokk… tokkk…” suara itu berasal dari jendela. Minkar mendekat lalu menyibak korden jendela. Tak ada siapa-siapa. Matanya hanya melihat tiang jemuran dengan kain lebar berwarna merah tergantung ditiang melambai-lambai tertiup angin. Minkar kembali menutup jendela.

“Gak ada apa-apa kok! Gue kan pemberani!” ucap Minkar berusaha menenangkan dirinya sendiri. Karena haus, Minkar lalu meminum air es dari dalam kulkas yang terletak disebelah jendela.

Baru beberapa tegukkan, Minkar terdiam, “Eh, kalau gak salah tadi sore kan gak ada jemuran. Lagi pula gue kan gak punya kain merah! Terus apa tadi???” Minkar lalu kembali menyibak korden. Kali ini apa yang dilihatnya sama dengan yang tadi sore. Kain merah itu hilang.

“KAMPRETTTT!” teriak Minkar lalu berlari masuk kedalam kamar lalu telungkup diranjang. Lima menit berdiam diri membuat keberanian Minkar muncul kembali. Namun semua itu sia-sia, dari sudut terjauh matanya, Minkar bisa melihat kain merah itu seolah berdiri disudut kamar.

“Sshh… ssshhhh… ssssshhhhhh….” Minkar mendengar suara nafas yang sangat berat. Suara itu semakin dekat dan dekat. Minkar tidak bisa menutup mata, badannya menjadi kaku tidak bisa bergerak. Kain itu mulai terlihat jelas seiring dengan tangan dingin yang mulai menyentuh tangan Minkar. Tangan itu benar-benar pucat dan kurus serta memiliki urat-urat varises yang berwarna biru. Tangan itu mengenggam kedua lengan Minkar. Dan dari samping muncul makhluk itu dengan wajah penuh jerawat, bola matanya besar berwarna putih pucat, dari hidung dan mata keluar darah berbau amis. Bibirnya robek sampai ke pipi hingga terlihat tulang rahangnya. Rambutnya yang kasar seperti ijuk kini mengenai punggung Minkar. Saat makhluk itu mulai menggerakkan lidahnya yang terjulur panjang, pandangan Minkar menjadi gelap.  Minkar pingsan karena ketakutan yang amat sangat.

***

“Kak… Kak… bangun?!” samar-samar Minkar mendengar suara. Matanya terbuka sedikit karena silau sinar matahari pagi, kepalanya juga masih terasa pening. Dilihat sekelilingnya sudah banyak orang.

“Kakak kok tidur disini?” tanya sang adik heran.

Minkar hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan adiknya. Minkar hanya  melihat bahwa dia terbangun di area belakang rumahnya. “Kok loe bawa orang-orang sih? Kakak kan risih dilihat banyak orang begini?” Minkar agak sedikit sewot sama adiknya.

“Apaan sih Kak? Orang gue sendirian kok disini!” jawab sang adik sambil geleng-geleng kepala…

Mendengar jawaban adiknya, Minkar lalu kembali pingsan.

-TAMAT-

AFRINA

Kamis, Mei 21 2 Comments »

Afrina

Aku terbangun dari kamar tidur. Tidak ada hal aneh yang terjadi. Semua terlihat seperti biasa-biasa saja. Kepalaku benar-benar pusing. Sambil memegang kepala, aku pergi ke kamar mandi.
"Haaaakh! Oh Tuhan, kenapa baju ku berlumuran darah?" Aku histeris tak karuan.
"Abang... Abang... Bang Erwinnn..." ku panggil tunanganku yang sebelum aku tidur datang menemuiku.
Sunyi tak ada jawaban.
"Abang, abang dimana?" Aku berteriak teriak sambil mencari di sekeliling rumah. Tapi tak ada tanda-tanda orang.
"Apa yang telah terjadi?" Tanyaku penasaran. Suasana makin mencekam ketika listrik tiba-tiba padam. "Siaalll, kenapa mesti disaat ini?! Dasar @#*&!" Tak terbendung lagi umpatan yang keluar dari mulutku...
Sambil meraba, akhirnya aku berhasil mendapatkan senter. Saat kunyalakan, terlihat sekelebat bayangan. Karena penasaran, aku berlari mengejar yang kuyakini seseorang.
"Hoiii, jangan lari!" Aku membuka pintu rumah.
Ada beberapa jejak yang terlihat mengarah kegudang belakang.
"Aku tahu kamu bersembunyi disana! Jangan sembunyi, keluar sekarang! Kalau tidak ..." aku menghentikan perkataanku.
Kini aku sudah didepan pintu gudang. Meskipun rasa takut yang kini melanda. Aku tetap membuka pintu tersebut...
"Cetekkk.. kreeekk..." suara pintu yang terbuka.
"SURPRISEEEEE...." teriak orang-orang yang ramai didepanku.
"Selamat ulang tahun sayanggg..." ucap bang Erwin sambil membawa kue tart dengan belasan lilin yang menyala. Lampu yang sebelumnya padam kini menyala terang benderang. Kulihat teman-temanku ramai disana. Kakiku gemetaran, air mataku tak terbendung lagi.
"Tiup lilinnya sayang, pejamkan mata dan buatlah permohonan..." ucap bang Erwin dengan wajah yang terlihat sumringah.
Sambil memejamkan mata. Aku berdoa sepenuh hati...
"Gimana sayang? Apa kamu bahagia?" Tanya bang Erwin.
"Akuuu... Bahagiaaa. Betul-betul bahagia!" Jawabku sambil mengecup kening pria berwajah oriental didepanku...

Ps. Baju ku yang berlumuran darah. Itu bukan darah, melainkan sirup merah yang sengaja dituang agar aku ketakutan. Dasar mereka.. uh!

TOLONG

Minggu, Mei 17 No Comments »

TOLONG
Orig. Post by Dimas Sumarsono

"Tuk... tuk... tuk..."
Aku menoleh kebelakang. Gak ada orang. Begitu kembali berjalan.      
"Tuk... tuk.."
Suara itu terdengar lagi.
Aku menoleh. Suasana tetap sepi. Aku kembali berjalan. Entah kenapa, tiba-tiba bulu kuduk merinding. Karena ingin mengusir takut. Aku mencoba memainkan hape sambil berjalan.
Kali ini suasana terlihat normal. Jalan sepi ini tidak mengeluarkan suara aneh lagi.
"Hmm.. bau apa ini?" Aku tiba-tiba mencium bebauan yang aneh. Karena ingin segera sampai diluar gang. Aku berlari sekuat tenaga.
Saat melewati tiang listrik yang bolam nya sudah pecah. Aku melihat sebuah sosok...
Sosok itu terlihat gelap. Karena tidak ada pencahayaan.
"Sial" ucapku pelan.
Begitu mendekat, sosok itu diam mematung. Aku yang ketakutan tidak berani menoleh. Hanya fokus berlari kedepan.
"Tuk... tuk.. tuk.."
Aku mendengar suara itu lagi. Begitu aku menoleh sosok itu menghilang. Saat melihat kebelakang tidak ada siapapun.
Karena sudah kepalang basah. Aku tetap berlari. Dan akhirnya sampai didepan gang.
"Aman" ucapku dalam hati.

***

"Kenapa mas? Kok pucat banget mukanya?" Tanya penjual warung didepan gang.
"Gakpapa bu..." jawabku pelan. Setelah membeli mie dan rokok. Aku kembali pulang kerumah. Tapi karena takut. Aku hanya menunggu didepan gang. Menunggu orang yang akan lewat gang.
"Cck.. sudah setengah jam kok gak ada yg lewat sih. Apa yang salah dengan malam ini?" Aku mendumel sendirian.
Hampir saja pasrah, tiba-tiba ada bapak-bapak pulang naik motor.
"Pak, saya boleh ikut sampai sana?" Aku memelas.
Bapak itu diam saja, lalu dengan menganggukkan kepala. Bapak itu mengizinkan aku ikut.
"Stop pak, disini saja! Terima kasih" ucapku sambil turun dari motor.
Bapak itu tetap diam. Hanya mengangguk kepala.

***

"Lega... sampai juga aku disini. Oh bantal, aku kangen..." tak sampai lima menit aku tertidur. Rasa lapar yang sempat ada seolah lenyap. Rasa kantuk lah yang kini nenyerang.
"Tuk... tuk... tuk.."
Aku terbangun karena suara itu. Suara itu terdengar dari arah luar jendela.
"Tuk... tuk... tuk..."
Suara itu terdengar lagi. Aku ketakutan lalu menutup bantal dikepalaku.
"Tuk... tuk... tuk..."
Suara itu kian terdengar nyaring. Aku mencoba menerka, suara apa itu. Otakku berpikir keras, dan akhirnya mengerucut pada sebuah langkah yang melompat-lompat.
"Siapa kamu" aku mencoba memberanikan diri bertanya. Suasana hening tanpa jawaban.
"Tuk... tuk... tuk..."
Suara itu terdengar lagi... dan lagi..
"Hoiii, siapa kamuuu..." aku mencoba teriak. Tapi tetap tidak ada jawaban. Dengan segenap keberanian. Aku pergi kejendela. Dengan sekali sentak. Korden terbuka...
Aku diam mematung memandang kedepan. Sosok didepanku...
Sosok itu tersenyum lebar. Ada kapas dikedua lobang hidungnya. Matanya putih semua. Dan ada darah yang menetes seolah air mata. Bibirnya pucat sepucat mayat.
"M...as... to...long lep...aas talii...ku..." ucap makhluk didepanku.
Tak bisa berkata-kata lagi. Pandanganku gelap. Aku jatuh tak sadarkan diri...

Tandi Wijaya

No Comments »

Tandi Wijaya* 
*Sebuah cerita untuk Claudia Erllavita


Malam setelah promnight
“Siaaal….” Teriak Vita sekencang-kencangnya didalam kamar. Tidak ada gema yang membalas. Teriakkan itu seolah lenyap begitu saja. Vita menunduk tidak berani memandang cermin didepannya. Vita malu melihat wajahnya sendiri. “Sungguh tak pantas bila aku bersanding dengannya!” ucap Vita putus asa.
Dari sisa kegelisahan yang ada dalam hati, Vita mencoba meraih hape-nya. Dengan segala daya, Vita menumpahkan semua perasaannya pada sebuah tulisan di-note hape-nya. Setelah puas menulis, Vita lalu membuka gallery dan memilih folder foto yang berjudul “my sweetheart”. Tanpa ragu, Vita menekan tombol delete. Dan, dalam sekejap hilang sudah semua file-file tersebut. “Tan, jika engkau tahu… aku benar-benar mencintaimu…” ucap Vita lirih.
***
Delapan tahun kemudian…
“Ibu Vita, bapak direksi memanggil ibu sekarang di ruang rapat…” ucap sang sekretaris melalui line telepon.
“Oke” jawab Vita dengan tegas. Vita lalu bergegas menuju ruangan yang terletak paling ujung.
Didepannya berdiri seorang pria. Kemejanya berwarna putih, celana kainnya berwarna abu-abu dengan garis rapi khas parlente. Pria itu juga memakai sepatu kulit berwarna coklat lembut. Benar-benar sosok yang memiliki kharisma sebagai executive muda. “Perkenalkan ini Tandi Wijaya” bapak direksi memperkenalkan pria tersebut.
“…”
“Loh Ibu Vita kok diam saja?” tanya bapak direksi memecah kesunyian.
“Eh, iya Pak… Saya Claudia Erllavita” Vita membalas tapi tidak berani menatap mata Tan dan direksinya.
“Begini, Bapak Tan ini pemegang saham mayoritas diperusahaan kita. Dan beliau ingin mengembangkan produk kita agar bisa diekspor ke jepang. Kamu kan, kepala marketing produk. Saya harap kamu bisa bekerja sama dengan beliau.”
“Ba.. ba.. baik Pak” ucap Vita terbata-bata. Baru kali ini sosok tegas Vita hilang. Aura ketangguhannya tiba-tiba meredup. Ada sebuah rasa yang telah lama sembunyi muncul kembali dari dalam hatinya. Mata dan jantungnya tidak bisa dibohongi. Ini semua gara-gara pria “my sweetheart-nya” muncul kembali. Cinta tak terucapnya saat SMA dulu.
***
“Hai Ibu Vita” Tan mencoba menyapa
“Eh, iya… ada apa?” Vita yang lagi asyik mengetik agak sedikit kaget.
“Maaf, ibu Vita sudah berkeluarga?” Tanya Tan dengan sopan.
Jederrrr… jantung Vita mulai berdegup. “Belum Pak… kalau bapak Tan, gimana?” Vita seolah tidak percaya telah melontarkan pertanyaan baliknya.
“Saya juga belum…” Jawab Tan sambil berjalan mendekati Vita. “Saya hanya penasaran, karena Ibu Vita sering lembur dan pulangnya malam.”
Sedetil itu dia memperhatikan aku? Ucap Vita dalam hati…
***
Hari berganti bulan, Tan dan Vita sering mengerjakan pekerjaan secara bersama-sama. Lalu suatu ketika, ada sebuah kejadian yang bikin semuanya berubah.
“Ibu Vita, aku boleh minta tolong?” Tan, tiba-tiba memecah kesunyian saat mereka duduk berdua berhadapan usai rapat dengan klien.
“Eh, iya.. apa ya?” Vita sedikit kaget.
“Ibu Vita, saya ingin …” Tan terdiam. Agak sungkan untuk meneruskan kata-katanya.
Vita juga ikut terdiam. Mata mereka beradu. Dan…
“Jika tidak keberatan, Ibu Vita mau tidak berpura-pura menjadi pacar saya?” Tan melanjutkan kata-katanya.
“….”
“Ibu Vita, tidak bersedia?” Tan mulai pasrah. “Kalau tidak mau, saya juga tidak masalah kok..”
Vita mendengar penekanan kata “kok”. “Tuhan, ada apa ini?” bathin Vita bergejolak.
“Oke, Ibu Vita, anggap saja ucapan minta tolong tadi tidak pernah terucap yaa?!”
Tan tidak tahu apa yang sedang terjadi didalam hati Vita. Hati Vita ingin mengucapkan iya, tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Kaku, sama seperti kejadian masa-masa lampau. Saat Vita masih SMA.
***
Malam sudah menunjukkan waktu sepertiganya. Tapi Vita belum bisa terlelap. Pikirannya masih saja terpaku pada ucapan Tan. Meskipun hanya pura-pura sebagai pacar, Vita ingin sekali. Akhirnya, dengan hati yang galau. Vita, mengirimkan sebuah sms tepat dipukul 3 subuh.
To: Tandi
Aku mau. Iya aku mau menolong kamu, untuk menjadi pacar bohongan…
Tak sampai lima menit, ada sms balasan. Vita terkaget, Tandi ternyata belum tidur.
From: Tandi
Terima kasih, hari sabtu aku jemput kamu dirumah.
***
Vita, memakai gaun hitam emas. Sesuai arahan Tandi melalui sms satu hari sebelumnya. Sedang Tandi memaki jas resmi. Benar-benar berwibawa sekali.
“Wah, ini toh pasangan kamu ya Tan?” ucap seorang ibu berpenampilan anggun. Wajahnya terlihat seperti wanita paruh baya yang berkelas.
Tandi hanya tersenyum, “perkenalkan Ma, ini Vita pacar saya…”
Vita yang melihat semuanya mendadak grogi. Bukankah ini hanya bohongan saja. Untuk menyembunyikan kegugupannya, Vita mengadahkan tangannya untuk bersalaman. “Saya Vita bu…”
“Saya Elia, mamanya Tandi. Jangan malu-malu, entar kan kamu bakal jadi mantu saya…” ucap mama Elia secara enteng.
Tandi melihat Vita yang kebingungan. Demi mencairkan suasana, Tandi memegang tangan Vita. “Ma, jangan terburu-buru. Kami butuh penyesuaian lagi. Masih lama untuk kearah sana.”
Karena tangannya dipegang Tandi. Jantung Vita berdegup kencang.
“Ah.. ngapain lama-lama? Bulan depan pokoknya kalian sudah harus menikah. Titik!” Mama Elia terlihat tersenyum.
Vita kaget mendengar perkataan wanita paruh baya didepannya ini. Wajahnya langsung melihat Tandi yang juga mulai salah tingkah. Tampaknya ini diluar skenario.
***
“Tandi bagaimana ini?” Vita bertanya cemas. Mereka kini duduk berdua diruang rapat dalam kantor.
“Maaf, Vit…” Tandi sekarang hanya menyebut nama Vita saja, tanpa menambah kata “ibu” didepannya.
“Maaf gimana?” Vita kembali bertanya.
“Aku sengaja minta tolong sama kamu. Karena Mama memang mendesak untuk aku punya pacar. Jika tidak, mama akan memaksa aku untuk menikahi pilihannya. Aku tidak mau Vit untuk dijodohkan…”
“Tapi, kamu tidak memikirkan perasaan aku Tan?”
“Aku sadar Vit. Dan paham betul, tapi mau gimana ini? Mamaku sepertinya sudah sreg dengan kamu. Jika tidak, aku akan dicoret dari ahli warisnya.”
“Jadi demi ahli waris? Aku tidak mau menjadi korban Tan… aku itu mau menikah dengan pria yang serius dan mencintai aku apa adanya.”
“Tapi Vit, aku mohon bantu aku…” Tandi memelas.
“Maaf Tan, ini bukan film atau drama korea. Ini nyata! Dan aku tidak mau!” Vita menegaskan prinsipnya.
“Vit…” Tandi menjawab pelan. Namun dia menahan kata-katanya. Diam adalah pilihan yang bijak saat ini.
Kini suasana menjadi hening. Benar-benar hening. Hanya bathin mereka yang berbicara saat ini.
***
Seminggu kemudian…
“Ibu Vita serius ingin resign?” ucap bapak direksi kaget tak percaya.
“Iya pak. Saya serius…” Vita berpegang teguh pada kemauannya.
“Jika ada masalah, jelaskan saja. Saya tidak ingin kehilangan pegawai berprestasi seperti anda.”
“Maaf, pak… saya harus resign…”
Bapak direksi diam. Ditatapnya Vita dengan kedua mata. Tapi dia tahu, tak mungkin bisa menahan lagi. “Baiklah ibu Vita… terima kasih atas kerjasamanya selama ini.”
Hati Vita sebenarnya sedih. Karier yang dicapainya tidak mudah untuk diraih. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak ingin terjerat dengan Tandi.
***
Sebulan ini Tandi banyak merenung. Rekan kerjanya kini bukan Vita, melainkan Bambang. Ada suasana yang berbeda. Hatinya seolah merindukan sosok wanita yang teguh dan berprinsip seperti Vita.
“Tan, kamu itu bagaimana sih? Wanita sebaik Vita bisa kamu putuskan? Awas kamu nyesal!” ucap Mama Elia melalui telepon.
Tandi hanya bisa menjawab, “iya… iya… dan iya..”
Bayangan wajah dan senyuman Vita datang terus menerus dalam ingatan Tandi. “Ada apa ini, Vita... dan Vita saja semua…” ucap Tandi dalam hati. Hatinya mulai bimbang, apakah dia sudah punya “rasa” terhadap Vita?
***
Beberapa hari kemudian…
“Halo… halo… Vita?” Tandi berusaha menelpon Vita.
“Iya, ini siapa?” tanya Vita penasaran.
“Ini aku Tandi… aku ingin berbicara dengan kamu. Kamu dimana?”
Cetek… tut..tuut…tuuuttt…
Vita memutuskan telepon.
Tandi mencoba menghubungi lagi. Dan… telepon itu kini tidak bisa terhubung lagi. “Please, angkat Vita jangan dimatikan…” Tandi bersedih hati.
***
Esoknya…
“Tok..tok..took…” bunyi suara pintu yang diketok oleh Tandi. “Permisi…”
Lima menit kemudian, pintu itu terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya berwajah keibuan dengan celemek yang kotor didepan Tandi. “Iya, anda siapa ya? Ada keperluan apa ya?”
“Maaf bu, saya Tandi… saya ingin bertemu dengan Vita..” ucap Tandi dengan sopan.
“Ooh… maaf Nak Tandi, Vita sedang keluar. Lumayan sudah ada dua jam…”
“Gakpapa Bu, saya boleh menunggu disini?” Tandi memotong ucapan wanita didepannya.
“Oh, boleh-boleh.. Tunggu didalam saja Nak, diruang tamu gak papa kok…”
“Terima kasih bu…” Tandi lalu masuk kedalam dan duduk sambil melihat foto keluarga Vita didinding rumah.
Asyik memandang, matanya melihat sebuah gulungan undangan pernikahan. Karena penasaran dibukanya undangan tersebut. Seketika, keringat dingin mengucur dari dahinya. Belum usai semuanya, tiba-tiba…
“Ngapain kamu disini Tan?” Vita kini berada didepan Tandi.
Tandi diam. Lalu “ini…” ucapnya singkat sambil mengenggam sebuah undangan.
“Iya, itu undangan pernikahanku. Dua minggu lagi aku akan menikah dengan tunanganku.”
“Tunangan?” Tandi kaget tak terkira…
“Iya, kamu kan hanya bertanya apakah aku sudah berkeluarga? Aku memang menjawab belum. Tapi kamu tidak pernah bertanya apakah aku memiliki tunangan…”
“Tapi aku jarang melihat kamu dengan tunanganmu atau pria lain? jangan berdusta!” Tandi tidak percaya.
“Tan… tunanganku ada dijepang. Kami LDR-an selama ini. Namanya sesuai di undangan tersebut. Wajar jika aku dan dia jarang ketemu.”
“Tapi Vit, kenapa harus sekarang kamu menikah?”
“Karena dia sudah tahu semuanya Tan. Aku ceritakan semuanya tentang kita kepada dia…”
Tandi diam menahan semua kata-kata penyesalan didalam hatinya.
“Tan, sehabis menikah aku juga akan ikut dia dijepang. Sebetulnya juga, kami sudah mempersiapkan semuanya selama ini.”
Tandi lalu berdiri, dengan gentle dia menerima kekalahannya. “Maaf Vit, aku sudah menyusahkanmu selama ini. Aku harap kamu bahagia dan menjadi keluarga yang harmonis. Aku juga ingin bilang, sebenarnya aku mencintaimu. Cuman aku lambat menyadarinya…”
“Terima kasih Tan… aku yakin ada wanita diluar sana yang memang pantas untuk kamu…”
Tandi lalu berjalan keluar tanpa menoleh kebelakang.
………
“Loh, Vit… mana temanmu yang laki-laki tadi? Ibu sudah buatkan es jeruk nih…”
“Ah, Ibu telat… sini buat Vita aja. Kebetulan Vita haus…”
“Dasar kamu yaa… buat tamu kok diminum juga?”
“Biarin… daripada mubazir” Vita lalu masuk kedalam sambil membawa belanjaan pernikahannya…
-Tamat-

Surat Untuk Bumi Yang Lagi Bersedih

Selasa, September 3 1 Comment »

Source picture in here


Kamu tahu matahari itu juga termasuk bintang bukan?

Bintang yang dekat dengan kamu…

Dan, kamu menjadikan ia pusat untuk di kitari…

kamu sangat bergantung akan hal itu.


Tapi bila matahari itu terbenam, ada satu lagi benda langit yang bercahaya.

Bukan termasuk bintang, tapi dia bercahaya meskipun itu bukan berasal dari dirinya.

Benda itu, meskipun dia… akh, sangat kau remehkan.

Tapi dia selalu ada, bahkan lebih dekat dari matahari.


Satu yang spesial, dia mendedikasikan kamu sebagai pusatnya.

Wajahnya pun sangat manis, awal-awal dia tidak terlihat,

Kemudian dia mulai tersenyum berbentuk sabit,

Lama-lama makin tertawa, hingga akhirnya

Dia riang membulat utuh…


Jika mataharimu mulai acuh, benda itu yang bernama bulan akan tidak acuh.

Mulai sekarang carilah bulan.

Aku yakin, didekat-dekat kita, didekat-dekat kamu

Ada bulan.


Dia tidak sempurna, tapi berusaha kuat disempurnanya diri kamu.

Bulan adalah bulan, benda langit yang bermimpi menjadi bintang,

Agar kamu tetap kuat, dan hidup.