Flash Fiction: Zombie!

Rabu, Juli 3 No Comments »



“Putri! Jangan lari kesana!”, teriak sang Pengembara.
Putri terus saja berlari menjauh. Tak digubrisnya teriakkan sang pengembara.
“Aaakkk…”, Putri berteriak kesakitan.
“Sial!”, hardik sang pengembara sambil menunggang kuda hitamnya. Dipecut kudanya agar berlari secepat mungkin. Tak ingin ia melihat sang Putri diserang para zombie.
“Hauumm.. haumm..”, para zombie berucap tak jelas.
“Pergi… pergi sana!”, teriak sang Putri mengusir para zombie tersebut.

Ketika jarak zombie dan Putri semakin dekat. Tiba-tiba terdengar suara tembakkan keras.
“Dorrr!” satu zombie pecah kepalanya.
“Dorrr… Dorrr…” dua zombie hancur badannya.
“Sial, peluruku habis!” maki sang Pengembara. “Putri, cepat naik ke kudaku ini. Segera!”, sang Pengembara berhasil mendekati Putri.
“Tapi kamu bagaimana?”, tanya sang Putri.
“Tenang! Aku akan baik-baik saja! Cepat pergi dari sini!”
Tiba-tiba sang Pengembara mengeluarkan pedang panjangnya. Tanpa ampun, lima zombie yang tersisa habis ditebas kepalanya.

“Kenapa kamu tidak pergi?”, tanya sang Pengembara.
“Aku takut… takut jika aku sendiri dan kamu terluka”, jawab sang Putri.
“Cck.. Dasar gila!”
Sang Pengembara akhirnya pergi menuju kearah utara bersama dengan sang Putri yang duduk dibelakangnya. Kuda hitam itu berlari kencang, tapi tidak sekencang sebelumnya.

Flash Fiction: Modyar!

No Comments »



“Tuiut.. tuiuut..”, bunyi nada pesan masuk.
“Dari siapa itu?”
“Bukan siapa-siapa kok… cuman sms dari teman.”
“Ah, bohong!”
“Sumpah cinta, abang mu ini tak mungkin berbohong…”
“Sini coba lihat!”
“Jangan…”
Tiba-tiba terjadi perebutan sengit. Handphone itu ditarik sana, ditarik sini bagai lomba tarik tambang.

“Krakkk!!!”
“Nah, jatuhkan cinta! Mati handphone abang!”
“Biarin! Siapa suruh gak mau kasih lihat! Jangan-jangan dari selingkuhannya ya?!”
“Bukan cinta… Nah kan, pecah layarnya. Modyar deh!”
“Makanya jangan sembunyi-sembunyi gitu… emang, dari siapa sih?”
“Itu sms dari bos abang, cinta! Dia minta laporan akhir bulan abang!”
“Upss!”
“Mati abang! Bisa-bisa dipecat ini!”

Kekuatan Apel

Kamis, Juni 13 No Comments »

"Cerita komik dibawah ini dibuat tanpa ada maksud dan tujuan negatif atau menjelekkan sebuah ikon tertentu, komik ini murni dibuat sebagai bentuk kreatifitas dengan maksud untuk menghibur semata.
Jika ada kesamaan ide, nasib dan bentuk kesialan dalam cerita ini mohon dimaafkan. Karena ini hanyalah fiktif dan rekaan imajinasi saja."
Selamat menikmati!


Cerita dibalik layar:
Siapa itu HoMie?

HoMie adalah maskot dari #HelloFest9. Entah arti nama HoMie itu sendiri apa, saya pun kurang tahu. Lagipula, ada fakta yang benar-benar "Dummy" yaitu, HoMie dibuat dalam bentuk boneka tidak lebih dari 24 jam (busyet!). Sepertinya ini adalah kekuatan dari yang namanya kekuatan Spontanitas! menurut buku Kreatif sampai mati alias #KSM yang ditulis oleh @maswaditya.
sumber: Twitter @maswaditya dan @cemprut_craft
Ide tentang Kekuatan Apel?

Ahh.. ini cuma ide-ide asal-asalan saja yang keluar secara langsung. Dan memang benar, kekuatan Spontanitas itu benar-benar dhasyat. Ini aja buktinya, saya sampai tidak bisa tidur alias bergadang mengerjakan ini. Walaupun saya berusaha untuk tidur, tapi rasa penasaran untuk menuntaskan itu benar-benar "membunuh saya"!. Perduli setan soal kerjaan besok. Hahahaha!!! *tertawa setan...

Dan melalui blog ini juga, saya ingin mengucapkan terima kasih buat mas @maswaditya yang menelurkan buku kreatif sampai matinya itu. Anggap saja komik gak jelas yang saya buat itu bukti bahwa kreatif itu ada didalam diri kita semua, walau dia telah "tertidur" lama tapi pasti bisa bangun lagi bila bertemu dengan dunianya sendiri. Hidup kreatif! Hidup bahagia! Kreatif itu bahagia! bukan kere tapi aktif! hehehe...

Sketsa saya...

Oiya... saya hanya bermodal imajinasi, kertas hvs bekas, pensil, dan hape nokia buntut 5800xm untuk memfoto, itu saja..

Jenny, Jayadi

Rabu, April 17 1 Comment »



Jay: “Jen, apa kabar?”
Jen: “Baik, hmm.. kok kamu tumben malam begini telpon?”
Jay: “Oo.. Kamu gimana disana? Sudah kerasan belum?”
Jen: “Ya… lumayanlah. Sedikit bisa beradaptasi dengan kota yang ramai ini. Teman-teman kampus juga asik-asik kok.”
Jay: “Syukurlah…”
Jen: “Jahat kamu Jay! Pertanyaanku kok kamu belum jawab?”
Jay: “Yang mana?”
Jen: “Itu… Kenapa kamu tumben telpon jam segini?”
Jay: “Aku kangen…”
Jen: “Kangen?”
Jay: “Iya, aku kangen kamu! Sumpah!”
Jen: “Kenapa? Dulu waktu kita dekat, kamu cuek-cuek aja?”
Jay: “Iya aku tahu itu. Sepertinya aku baru sadar akan kamu!”
Jen: “Sadar kenapa?”
Jay: “Hanya kamu yang mengerti aku. Aku benar-benar merasa tenang dan nyaman bila dekat denganmu!”
Jen: “Kamu serius?!”
Jay: “Iya, aku serius! Aku terlambat menyadari ketika kamu jauh dari aku. Ternyata aku sayang sama kamu.”
Jen: “Kamu gak mabuk kan?”
Jay: “Gak! Aku sadar dua ratus persen! Mungkin aku mabuk kamu! Aku ingin selalu dekat denganmu!”
Jen: “Aku takut itu hanya perasaan semu saja, Jay!”
Jay: “Tidak! Bila itu semu, kenapa aku selalu memikirkan kamu? Bahkan aroma parfummu, terkadang masih bisa aku cium. Walau kamu gak ada disini!”
Jen: “Kamu sayang aku?”
Jay: “Iya! Aku sayang kamu Jen!
Jen: “Aku ragu!”
Jay: “Sudahlah, kapan kamu balik?”
Jen: “Besok lusa kayaknya, kebetulan itu libur semester. Orang tua juga minta aku pulang.”
Jay: “Baiklah aku jemput kamu! Tunggu aku ya!”
Jen: “Okey!”
Waktu berjalan dengan cepat, cinta itu benar-benar membuat semuanya semakin cepat saja. Jayadi begitu semangat ketika hari ini adalah hari kepulangan Jenny. Jayadi tak sabar hati, begitu pula dengan Jenny yang ternyata sudah menunggu di terminal kedatangan bandara.
Sepuluh menit, dua belas menit, hingga satu jam lamanya Jenny menunggu. Selama menunggu itu pula Jenny berusaha menghubungi Jayadi lewat telepon genggamnya. Akhirnya Jenny merasa kecewa karena Jayadi tidak menjemputnya, bahkan untuk mengangkat teleponnya dan membalas saja tidak ada.
Sesaat ditengah perjalanan, Jenny melihat sebuah kecelakaan mobil. Jenny hafal betul mobil itu, terlebih lagi stiker “khas klub bola” Real Madrid dikaca bagian belakang. Jenny menyetop taxi yang ditumpanginya. Jenny berlari kearah mobil itu. Sungguh diluar dugaan, itu adalah mobil Jayadi. Jenny panik melihat Jayadi bersimbah darah. Dan ketika itu juga, seorang petugas kesehatan yang menolong mengangkat tubuh Jayadi. Diperiksa semua tanda kehidupannya. Dan ternyata naas, hari itu adalah hari terakhir bagi Jenny melihat Jayadi. Jayadi telah meninggal dalam kecelakaan itu. Jenny berlari, merangkul Jayadi. Dari kantung bajunya, Jenny melihat sebuah handphone, dari sana dia melihat semua panggilan masuk dengan nama "My Love ever Jenny". Jenny menangis meraung-raung melihat itu semua.

Haru dan Aku: Identik Korea Asia

Jumat, Maret 15 1 Comment »



Sebenarnya baru dua novel yang saya miliki dari penerbit haru. Pertama, My name is Kim Sam Soon dan yang kedua 4 ways to get a Wife!.

Pada awalnya saya membeli buku pertama karena pada waktu itu bingung untuk memilih buku apa yang saya harus beli setelah buku yamg saya niatkan dari rumah sebelumnya belum tersedia ditoko buku. Entah, bingung juga alasannya tapi mungkin ‘cover’ yang menarik benar-benar membuat saya penasaran. Terlebih lagi ini adalah buku yang ‘korea’ banget. Sedangkan saya pada awalnya tidak tertarik dengan korea. Buku yang kedua saya beli karena membaca resensi dari teman twitter. Ya! Karena diberi ‘rating’ 5 jadi benar-benar buat saya penasaran. Terlebih lagi ‘cover’ jadi salah satu senjata andalan. Soal isinya, sudah tidak diragukan lagi ‘identik’ dengan asia. Inilah ciri khas dari penerbit haru.

Saran saya, teruslah menerbitkan buku yang memang sudah menjadi ciri khasnya. Terus, beri juga dukungan untuk penulis-penulis lokal yang berbakat. Siapa tahu selama ini penerbit haru ‘mengimpor’ buku dari korea/jepang suatu saat bisa mengekspor buku-bukunya sendiri ke sana. Amin!
Semangat yaa.. Sukses selalu..