Giring: Banting Aku Mak!

Baca selengkapnya » | Sabtu, Februari 11 2 Comments »


"Ring.. Oii.. Ring, bangun!!!" Teriak Emak dari balik pintu kamar.
"Ring, BANGUNNNN!!!" Teriak Emak makin kencang.
"Kruaaaakkk.. Glodeeerrr.. BRUUUUKKK...!!!" Bunyi pintu Giring yang tiba-tiba saja jatuh setelah ditendang Emak dalam satu kali gerakan.
"Huaaaaa... Apa ituuu!!??" Giring kaget bukan kepalang. Dengan kondisi satu mata yang masih dalam keadaan merem, Giring berhasil bergerak cepat, berdiri dengan sigap bagai seseorang yang telah lama berguru silat pada om Bruce Lee.
"Ring, kamu ini! Tidur kok susah betul dibangunin!" Teriak Emak sambil mendekati Giring.
"Giii..iiringg, keeca-pee-aan mak" jawab Giring dengan tergagap khas Aziz Gagap.
Giring berlari menjauh dari Emak. Giring takut, Emak bukanlah sembarang Emak. Konon kabar dari buyut, Emak sempat berlatih ilmu beladiri dengan tingkat keahlian sudah setingkat master. Giring sangat takut kepada Emak. Setakut-takutnya Giring pada dosen yang paling killer di kampusnya, Emak lah yang paling Giring takutin. Giring makin terpojok di sudut kamarnya. Kali ini, matanya sudah terbuka semua bahkan lebih terbalak tapi iler kering masih tetap menempel aman di sekitar bibir. Dengan singgap Emak berhasil menarik tangan Giring. Giring pasrah, asli pasrah bagaikan ayam yang sudah pasrah hendak di sembelih oleh algojo ayam dipasar. Giring tidak melawan, bukan lantaran Giring tidak kuat. Tapi memang Giring telak kalah ilmu persilatannya. Hasil ilmu yang didapat dari laga silat om Bruce Lee yang didapat dari menontonan film pun seolah tak berarti apa-apa. Ilmu Emak yang konon asli turunan dari ilmu kuno daerah Banten jauh melebihi semuanya.

Nanar

Baca selengkapnya » | Jumat, Februari 10 No Comments »

Malam ini udara di rumah terasa panas sekali, tak ada yang bisa kulakukan selain duduk diteras. Hanya segelas kopi susu yang ikut menemani diriku melamun duduk didepan teras. Banyak hal yang aku pikirkan, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga bahkan sampai asmara percintaanku.

Aku tinggal jauh dari orang tua hidup merantau karena pekerjaan yang memaksaku demikian. Aku tinggal dirumah kontrakkan dengan hanya seorang diri karena memang aku lebih memilih untuk tinggal sendiri daripada tinggal berpatungan dengan teman. Sebuah kebebasanlah yang kujadikan alasannya.

Aku mencintaimu, karena engkau melengkapiku

Baca selengkapnya » | Selasa, Agustus 9 No Comments »


Judul aslinya I love "NOW"

Ini adalah tulisan dari Ratih Maya Sari (yang insya Alloh akan menjadi istri saya)
Sebuah ungkapan dari hatinya, semoga bisa menginspirasi kalian

Duluuuuu aku pernah menjalin hubungan yang sangat berat....namanya wanitaaaaa yang berpikirrr hanya dengan perasaan..

Duluuuuu aku rasa dialah jodohku, pelabuhan terakhirku, tapiiiiii ternyata apa yang menurut kita baik belum tentu menurut orang tua, keluarga, teman juga baik, lebih-lebih Alloh SWT.

Duluuuuu aku pernah memaksakan kehendakku padahal aku tahu itu salahhh. Aku mencoba untuk bertahan tapi sangattttt berattt. Dan yang kudapat hanyalah air mata, hidup yang selalu was was tidak tenang...

Duluuuuu berat memang melupakannya dan sangat sulit untuk berkata pisah, tapiii mau tidak mau, suka atau tidak suka, aku harus lakukan itu demi keutuhan keluargaku. Realita hidup yang memang seharusnya aku tidak memaksakan kehendakku. Bersyukur hubungan sebelumnya dapat berakhir dengan damai karena hubungan kami dimulai dengan baik-baik dan berakhir dengan baik-baik.

Renungan Wanita

Baca selengkapnya » | Minggu, Juli 3 No Comments »

Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang 'akhwat' (muslimah/wanita) datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “ 'anty' (sebutan untuk perempuan muslimah) sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya

“Mbak kerja di mana?”, entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

Mencoba Indomie Pedas Mampus

Baca selengkapnya » | Jumat, Mei 27 No Comments »


Ada yang tahu tidak warung Mie Goreng Instan Indomie Pedas di kota Samarinda, yang terletak di jalan Gatot Subroto atau lebih tepatnya begini dari jalan Kusuma Bangsa yang mau menuju ke jalan Agus Salim terus setelah ada lampu merah belok kiri untuk menuju arah Gatot Subroto, letaknya di sebelah kanan sebelum jembatan. Kebetulan kawan, saya lupa nama warungnya.

Di warung tersebut tidak hanya menjual Mie Goreng Instan Indomie, tapi bakso dan es jus pun tersedia. Namun yang lebih bikin tertarik adalah Mie Instan Indomienya itu disajikan dalam rasa yang sangat pedas-mampus. Tingkatannya dimulai dari Pedas, Setengah Mampus, dan akhirnya Mampus. Maksudnya mampus disini yaitu rasa pedasnya bikin anda Mampus-pus-pus dan bibir anda akan jadi dower-wer-wer. Pokoknya gitu deh..